Potret Foto Cendet Pulau Bintan

Inilah foto yang saya dapatkan dari burung cendet bintan... burung cendet merupakan salah satu burung yang eksotis kicauannya.

Legenda Sangkar Koh San

Berbicara tentang burung, kicau mania tentu tidak akan pernah luput dengan sangkar, karena burung peliharaan pasti akan dirawat di dalam sangkar. Pada zaman dahulu pemelihara burung hanyalah kaum ningrat atau orang yang berada, karena pada zaman dahulu pemikiran orang sangat sederhana...
Untuk makan sendiri saja sulit kok mau merawat burung

Tuan Hoo Poo San atau lebih dikenal dengan nama Koh San adalah sosok yang sangat terkenal sejak era 1970 an sebagai produsen sangkar berkualitas tinggi, yaitu sangkar Kosan / Koh San. Sangkar yang diproduksi oleh beliau (telah wafat) benar-benar presisi dan berkualitas, adapun bahan yang digunakan adalah bahan pilihan dari kayu jati pilihan, menggunakan ruji bambu yang tua dan diambil bagian kulitnya saja. 

Koh Ho Poo San telah tiada, saat ini penerus beliau adalah puteranya yang bernama Witoyo Santoso yang mulai memproduksi sangkar sejak tahun 2003, untuk menjaga kualitas sangkar yang telah melegenda itu Om Witoyo tetap meneruskan tradisi ayahnya yang selalu mengandalkan bahan yang berkualitas, teknik perakitan dan pengecatan yang baik. 

Pengecatan sangkar Koh San dilakukan bukan dengan cara disemprot, melainkan dengan cara manual menggunakan kuas, adapun proses pengecatannya dilakukan hingga 4 kali pengecatan untuk mendapatkan hasil yang bagus.

Anda berminat dengan sangkar Koh San? 
Sangkar kohsan asli hanya dapat dibeli langsung di workshop Om Witoyo, Jl Simo Tambaan Sekolahan No 34-36, Surabaya. Om Witoyo
Stand / Toko Sangkar Koh San Om Witoyo :
Pasar Burung Bratang Surabaya, Lantai 2 Blok A. No. 23.

Jenis Sangkar Kohsan sangat beragam, mulai dari model segi empat, model persegi panjang, sangkar burung branjangan, sangkar umbaran hingga sangkar untuk ternak kenari maupun sangkar untuk memandikan burung.

Sangkar Koh San koleksi Om Witoyo
Sangkar Koh San yang telah melegenda itu ternyata dimanfaatkan oleh pengrajin sangkar dan pedagang sangkar dengan mendompleng  nama besar Koh San yang telah terkenal dari masa kemasa baik di lokal maupun internasional itu agar dagangan mereke laris. Namun kualitas yang dihasilkan dari pengrajin tembakan itu tidaklah sebaik yang aslinya yang hanya bisa didapatkan dari om Witoyo.

Akhirnya terjawab sudah legenda sangkar Koh San itu, pertanyaan mengapa di beri nama sangkar Koh San, ternyata karena produsen atau yang membuat sangkar presisi yang kuat dan tahan bertahun-tahun itu adalah Tuan Hoo Po San yang berupakan pria yang berketurunan dari Tionghoa dan tinggal di Surabaya.

Itulah legenda tentang sangkar Koh San yang dapat Gembala News bagikan untuk rekan-rekan kicau mania agar dapat dipahami sehingga tidak terjadi kesalahan dikemudian hari, adapun sangkar kosan yang banyak beredar di pasaran saat ini mungkin memang sangkar kosan yang bukan asli karena penulisan yang benar adalah SANGKAR KOH SAN.





Pengawasan Terhadap Hewan Tahanan Karantina

Sebagaimana tulisan Gembala sebelum ini tentang Penyelundupan Burung, kali ini saya ingin berbagi tulisan tentang Pengawasan Terhadap Hewan Tahanan Karantina. Dimana kasus ini bermula dari usaha penyeludupan oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang memperdagangkan hewan dilindungi berupa Owa (sejenis monyet) dan Musang Bulan secara online di internet. 

Berdasarkan asal mua'asalnya dipastikan hewan tersebut berasal dari Dumai, Propinsi Riau, sebuah kapal ferry dari Dumai yang sandar di pelabuhan Sekupang, Batam ditemukan membawa 2 ekor musang (musang luwak, musang bulan), 2 ekor Kera (Owa dan Kera coklat). Menurut penuturan dari pihak kapal, hewan tersebut dititipkan oleh seseorang dari dumai dan akan ada yang mengambil di batam, karena kedatangan hewan tersebut tidak disertai dengan dokumen pendukung, baik dari karantina maupun dokumen lain maka pemasukan hewan tersebut disebut penyelundupan. Terhadap pihak penjual maupun pembeli dapat dikenai sanksi pidana, menilik pada UU No. 16 Tahun 1992, Pasal 31. Sehingga terhadap hewan tersebut dilakukan penanahanan oleh pihak Karantina Hewan di Batam.

Pihak pembeli yang ditunggu-tunggu tak juga muncul maka terhadap hewan yang ditahan tersebut dibawa ke kantor Karantina dan di serahkan kepada pihak terkait, yaitu BKSDA Kepulauan Riau. 

Karena hewan-hewan tersebut masih anakan yang butuh perawatan intensif, maka terhadap hewan tersebut dilakukan perawatan lebih lanjut untuk dibesarkan oleh pihak-pihak yang berkompeten dibidangnya, yaitu BKSDA yang bekerja sama dengan Taman Safari. 

Petugas Karantina
Dalam hal ini Karantina selaku pihak yang melakukan penangkapan maka tindak lanjutnya yaitu melakukan Pengawasan terhadap hewan tersebut, berdasarkan penuturan dari seorang yang petugas Karantina Hewan di Tanjung Uban, prosedur pengawasan setelah diserahkan adalah sampai dengan 14 hari kerja. Namun, sebagai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap hewan dilindungi maka Petugas Karantina Hewan di Tanjung Uban akan senantiasa melakukan pengawasan terhadap pemeliharaan hewan tahanan tersebut. apalagi hewan-hewan tersebut adalah hewan yang termasuk penular rabies. 

Tindakan pengawasan dan pengambilan sampel darah akan dilakukan untuk mengetahui apakah hewan tersebut menularkan rabies atau tidak, sebab Kepulauan Riau adalah propinsi yang bebas dari Rabies, sehingga pemasukan HPR ke Kepri telah dilarang berdasarkan Peraturan Gubernur. 

Semoga sehat dan lekas besar ya owa, monyet dan musang... 

Kepada sobat Gembala, saya menghimbau untuk menghentikan dan turut berpartisipasi menjaga negeri dengan tidak melakukan jual beli terhadap hewan yang dilindungi, melaporkan hewan yang akan dilalulintaskan dari dan ke daerah lain ke petugas Karantina yang bisa ditemui dipelabuhan maupun bandara.

Pengurusan dokumen karantina sangatlah mudah, jika pengurusan mudah mengapa anda menyelundupkan, jika anda melalulintaskan hewan tanpa dokumen maka sudah selayaknya petugas karantina bersikap tegas dengan melakukan penahanan. 

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Infoting | Bloggerized by Putera Gembala