Lapor Karantina atau DITAHAN

Sobat Gembala, Sobatq online, bagi sebagian orang mungkin baru tahu bila akhir-akhir ini sering terjadi penahanan barang bawaan di pelabuhan atau bandara padahal barang tersebut barang milik sendiri yang dibeli atau dibudidayakan sendiri. Padahal kejadian pemeriksaan barang bawaan di pelabuhan dan bandara sudah terjadi sejak zaman dahulu, mengapa? karena pemerintah telah menetapkan sebuah peraturan dan setiap peraturan atau perundang-undangan yang telah diterbitkan setiap orang diwajibkan untuk mengetahui dan memahaminya. Demikian juga dengan perundang-undangan dibidang perkarantinaan yang tercantum dalam UU No. 16 Tahun 1992, sejak saat itu hingga hari ini dan seterusnya seharusnya setiap warga negara mengetahuinya, sehingga perluasan informasi yang dibungkus dalam wadah sosialisasi seharusnya bisa menyampaikan regulasi tentang perkarantinaan kepada masyarakat.

Tindakan 8P merupakan tindakan karantina yang meliputi :

  1. Pemeriksaan, 
  2. Pengasingan, 
  3. Pengamatan, 
  4. Perlakuan, 
  5. Penahanan, 
  6. Penolakan, 
  7. Pemusnahan dan 
  8. Penahanan

Tindakan karantina sebagaimana dimaksud hanya untuk operasional normal, dimana setiap pemilik barang atau yang dikuasakan melaporkan barang bawaannya untuk dilakukan tindakan karantina, sebagaimana amanah dari Pasal 5, 6 dan 7 pada UU No. 16 Tahun 1992. Sedangkan untuk penanganan kasus lain, dimana pemilik barang atau yang dikuasakan tidak melaporkan kepada petugas karantina ditempat pemasukan/pengeluaran (bandara/pelabuhan) maka terhadap barang (komoditi pertanian) baik hewan dan bagiannya maupun tumbuhan dan/atau bagiannya dapat dilakukan tindakan PENAHANAN. 

Penahanan sebagaimana dimaksud merupakan bagian dari tindakan karantina agar pemilik barang atau yang dikuasakan memenuhi persyaratan karantina, namun apabila pemilik atau yang dikuasakan tidak dapat memenuhi persyaratan sebagaimana peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah maka petugas karantina dapat melakukan PENOLAKAN atau PEMUSNAHAN.

Dalam kasus lain PENAHANAN tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan kriminal apabila memenuhi unsur tindakan kriminal karena adanya unsur kesengajaan sehingga atas tindakannya tersebut dapat merugikan Negara yang berujung pada kerugian petani, kerusakan lingkungan, menimbulkan keresahan dll, hal ini sesuai dengan Pasal 31 UU No. 16 Tahun 1992.

Untuk itu kepada Kicau Mania, Cat Lovers, Bonsai Lovers, Bird Lover, pebisnis, pedagang dan apa pun profesi anda jika anda hendak membawa suatu komoditi pertanian (hewan/tumbuhan) dan bagian-bagiannya harap melaporkan kepada petugas Karantina yang ada ditempat-tempat pemasukan yaitu Pelabuhan, Bandara di seluruh indonesia. Jika anda tidak tahu tempatnya silahkan bertanya kepada petugas yang ada dibandara atau pelabuhan. 

Ingin lapor Karantina? Klik di Lapor Karantina

Sebelumnya baca juga Azas Karantina agar kita paham dan sadar betapa pentingnya keberadaan Karantina bagi kelestarian SDA.

Azas Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan

Yang disebut azas adalah hal yang mendasari terbentuknya atau dibuatnya suatu peraturan atau hukum. Demikian juga dengan lahirnya peraturan atau perundang-undangan tentang perkarantinaan di Indonesia yang ditetapkan pada tahun 1992. Azas karantina hewan, ikan dan tumbuhan adalah kelestarian sumber daya alam hayati hewan, ikan dan tumbuhan, sesuai dengan bunyi dari Pasal 2, UU No. 16 Tahun 1992.

Mengapa hewan, ikan dan tumbuhan harus dijaga kelestarikan?

Karena hewan, ikan dan tumbuhan adalah hasil sumber dalam alam hayati yang dibutuhkan oleh manusia, jika keberadaannya berkurang saja bisa mempengaruhi kestabilan harga bahkan kestabilan keamanan bangsa. Menjaga kelestarian sumber daya alam hayati (save bio deversity) merupakan suatu tugas dan pekerjaan yang mulya. Menjaga kelestarian sumber daya alam hayati  ini menjadi tugas kita semua sebagai warga negara Indonesia, untuk kelestarian itulah perundang-undangan itu dibuat agar alam mampu menyediakan hasil yang terus menerus sehingga bisa dimanfaatkan oleh setiap warga negara.

Petugas karantina hanyalah petugas yang diberi wewenang untuk melaksanakan perundang-undangan itu, sehingga kesadaran masyarakat lebih di utamakan. Kita semua tentu masih ingat dengan kasus Flu Burung (Avian Influenza) yang pernah mewabah dan merusak produksi peternakan ayam di Indonesia yang efeknya sangat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Baru baru ini ada kasus meninggalnya 3 orang Australia setelah mengkonsumsi Rock Melon (Tahun 2018) dan belasan lainnya sedang dalam perawatan medis, hal ini disebabkan pada buah melon tersebut terdapat bakteri Liseria Monocytogenes, sebenarnya bakteri ini memang ada pada tanah, air, ikan dan hewan lainnya. Bila bahan makanan tersebut melalui proses dimasak bakteri tersebut akan mati sehingga tidak berbahaya bagi manusia, namun bila tidak melalui proses dimasak seperti ketika kita mengkonsumsi buah melon, maka 100 bakteri Liseria m. akan membahayakan manusia.

Adanya wabah semacam itulah sangat diperlukannya tindakan karantina, salah satu upayanya adalah kita jangan mendatangi negara atau wilayah yang terjangkit penyakit, dan kita jangan sampai membawa dan atau  mengkonsumsi media pembawa (melon) dan mungkin juga buah yang lainnya dari wilayah negara tersebut.

Salah satu tindakan pemerintah untuk mengantisipasi adanya wabah tersebut adalah dengan tidak mengimport buah dari wilayah Negara Australia tersebut, juga negara tetangga yang mengimport buah dari Australia. Sehingga setiap pemasukan disekitar negara tetangga ditutup untuk pemasukan buah melon, setiap ada penumpang yang membawa buah melon dari Malaysia dan Singapore maka akan langsung dilakukan pemusnahan ditempat, karena Malaysia dan Singapore mengimport buah melon dari Australia.

Mengapa harus ada karantina?

Karena Indonesia memiliki sumber daya alam hayati yang sangat beragam sehingga kekayaan alam hayati tersebut harus dilindungi kelestariannya. Masih banyak spesies OPT, HPHK yang belum ada di Indonesia dan beberapa daerah di Indonesia. Untuk itulah Karantina ditunjuk dan diberi tugas sesuai UU No. 16/1992 untuk melaksanakan tupoksinya "Mencegah masuk (dari luar negeri) dan tersebarnya Hama Penyakit Hewan, Hama Penyakit Ikan dan Organisme Penyakit Tumbuhan di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia".

Kesimpulannya;

Karantina itu ada untuk melindungi pertanian di Indonesia, karena di daerah atau di negara lain ada banyak jenis penyakit yang bisa mengancam pertanian kita di Indonesia. Setiap tahun petugas karantina dan petugas di dinas pertanian akan terus melakukan pemantauan dan pemetaan penyebaran penyakit hal ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan penyebaran penyakit.
Sehingga setiap lalu lintas perdagangan komoditas pertanian diwajibkan lapor kepada petugas karantina agar upaya pencegahan penyebaran dan masuknya penyakit dapat dilakukan.




Potret Foto Cendet Pulau Bintan

Inilah foto yang saya dapatkan dari burung cendet bintan... burung cendet merupakan salah satu burung yang eksotis kicauannya.

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Infoting | Bloggerized by Putera Gembala